Yang Kita Marahi dari Video Maudy Ayunda, dan Apa yang Sebenarnya Dia Ucapkan
Saya tonton video mindfulness Maudy Ayunda sampai habis, lalu saya cocokkan klaim yang viral dengan apa yang benar-benar dia ucapkan.
Halo, teman-teman.
Beberapa minggu terakhir timeline saya penuh sama satu video Maudy Ayunda, Mindfulness in the Age of Bad News. Banyak yang bilang kontennya nirempati, tone deaf (nggak peka sama suasana), bahkan ada yang nyebut dia "jahat". Saya penasaran, jadi saya tonton videonya sampai habis di sela shift malam, lalu saya cocokkan klaim yang viral dengan apa yang benar-benar dia ucapkan.
Buat yang belum kenal, Maudy Ayunda itu penyanyi dan aktris yang juga dikenal karena pendidikannya, lulusan Oxford dan Stanford. Citra "publik figur yang pintar" ini penting buat paham kenapa reaksi ke videonya sekeras ini. Dari yang saya tangkap, ekspektasi orang ke dia memang tinggi.
Videonya Agustus, marahnya September
Video itu diunggah 21 Agustus 2026 di channel YouTube Maudy (tonton di sini, durasinya sekitar 14 menit). Selama kurang lebih tiga minggu, hampir nggak ada yang bahas.
Viralnya baru sekitar pertengahan September, pas kabar buruk (bad news) lagi numpuk. Kebakaran hutan dan asapnya, kelangkaan BBM, sampai kasus keracunan massal menu MBG. Potongan videonya nyebar di Threads dan X, dan dari situ nempel satu bingkai, "Maudy nyuruh kita menjauh dari penderitaan orang lain."

Artinya, video yang dibikin dalam suasana Agustus dinilai pakai suasana September. Bukan maksud membela, cuma saya coba tambahin konteks yang biasanya hilang. Terkadang konten di sosial media yang udah beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun yang lalu akan viral di masa sekarang apabila suasana dan kondisinya relate atau bisa dikaitkan dengan konten tersebut. YKWIM.
Saya cek sendiri, klaim viral vs isi video
Ini bagian yang paling penting buat saya. Saya ambil tiga klaim yang paling sering muncul, lalu saya cari di videonya. Maudy ngomongnya campur Indonesia dan Inggris, jadi kutipan di bawah saya ambil dari subtitle Bahasa Indonesia di videonya.
Klaim 1, "Maudy nyuruh kita menutup mata dari berita buruk." Yang dia ucapkan justru kebalikannya. Sekitar menit 7:29 dia bilang soal "mengkurasi sumber informasinya", lalu nambahin "yang dimaksud di sini tuh bukan kayak menutup mata sih sebenarnya dari apa yang terjadi". Di 8:14 dia malah ngingetin soal konten viral yang "kurang punya konteks". Ironisnya, itu yang kejadian sama videonya sendiri.
Klaim 2, "Solusinya cuma suruh orang meditasi dan batasi screen time." Kata "meditasi" dan "screen time" nggak muncul di videonya. Yang dia sarankan itu punya jam tertentu buat ngikutin berita (8:51), boleh berhenti dan "nggak perlu membaca konten ke-15 tentang berita itu" (10:25), terus nyeimbangin asupan dengan hal lain kayak baca buku, nonton dokumenter, ngobrol sama orang terdekat, atau menikmati alam (11:01).
Klaim 3, "Videonya ngajak orang jadi apatis." Pertanyaan utama videonya, di menit 0:49, adalah "gimana caranya kita tetap peduli dan juga bisa menjaga diri kita sendiri". Menjelang akhir, di 12:21, dia bilang "kita tetap perlu terus terlibat", dan penutupnya di 13:40 bilang "ayo kita lakukan apa yang bisa kita lakukan, dan di luar itu coba juga untuk bertahan secara mental dan emosional bersama-sama."
Jadi, setidaknya buat tiga klaim ini, yang dimarahi banyak orang nggak ada di videonya.
Kalau isinya begitu, kenapa tetap kebaca dingin?
Saya nggak mau berhenti di "netizen salah baca". Ada alasan nyata kenapa pesan ini kerasa nyakitin buat banyak orang.
Yang ditangkap duluan itu gambarnya, bukan kata-katanya. Videonya berformat vlog bikin sarapan di pagi yang cerah, dapur yang nyaman, ada alpukat, telur, dan roti. Saya yang niat nonton full aja sedikit kegocek, apalagi orang yang cuma lihat potongan klip di timeline. Gambar sarapan santai sambil ngomongin berita bencana itu lebih nempel, jauh sebelum kita dengar kalimat soal "tetap peduli".
Satu pesan, didengar dua kelompok. Ada yang ngikutin krisis dari jauh dan kewalahan. Buat mereka, saran "atur asupan berita" masuk akal. Ada juga yang ngalamin langsung, yang tiap hari hirup asap, yang ngerasain susahnya cari BBM, yang anaknya keracunan. Buat mereka, saran yang sama kedengeran kayak "nggak usah lihat penderitaan kalian". Video ini ngomong ke kelompok pertama, tapi didengar dua-duanya.
Kemasannya ikut ngasih kesan. Judul berbahasa Inggris dengan kata "mindfulness" udah ngasih kesan "ini bukan buat kamu" ke sebagian orang, sebelum videonya diputar.
Permintaan maafnya ada, tapi awalnya jangkauannya kecil. Pada 13 September 2026, Maudy nulis komentar tersemat di video yang sama. Isinya ngakuin bahwa bisa menjauh sejenak dari berita itu sendiri adalah privilege, "Tidak semua orang punya pilihan itu", dan dia minta maaf karena bagian itu belum cukup dia refleksikan (Detik, Liputan6). Masalahnya, orang yang marah karena potongan klip hampir pasti nggak sampai buka YouTube dan baca komentar tersemat. Seminggu kemudian, 20 September, dia baru nulis permintaan maaf terbuka di Instagram (Detik).
Kritik yang memang layak didengar
Dari seluruh keributan ini, ada satu kritik yang menurut saya paling tajam.
Kurang lebih begini. Yang dialami banyak orang hari ini bukan sekadar bad news, tapi dampak dari bad policy. Masalah sistem dan kebijakan, lalu di video ini dikecilin jadi masalah individu, "kelola emosimu, atur asupan beritamu."
Videonya memang ngejawab tuduhan "nyuruh apatis". Dia berkali-kali bilang tetap peduli dan tetap terlibat. Tapi "tetap terlibat" dan "lakukan apa yang bisa kita lakukan" masih umum banget. Di deskripsi videonya memang ada "political issues" dan doa buat teman-teman di NTT dan Kalimantan, tapi di omongannya sendiri nggak ada penyebutan kebijakan, pemerintah, atau siapa yang harus tanggung jawab. Bagian soal filsafat Stoik di menit 4:36, yang ngutip Epictetus soal cemas karena nyoba ngontrol hal di luar kendali kita, juga bisa kebaca "kebijakan itu urusan di luar kendalimu", walaupun mungkin bukan itu maksudnya.
Menariknya, justru di komentar tersematnya Maudy nyebut "berbagai kebijakan dan program yang enggak tepat sasaran" (Republika). Di permintaan maaf Instagram-nya dia juga nulis ada saat-saat ketika dia "bisa lebih hadir atau bersuara".
Jadi buat saya kritik ini benar sebagian, nggak seluruhnya. Video ini nggak nyuruh orang menutup mata, tapi juga nggak nyambungin "jaga kewarasan" dengan "tetap bersuara soal kebijakan". Padahal dua hal itu saling butuh. Orang yang burnout biasanya yang paling cepat berhenti peduli dan berhenti bersuara.
Buat saya, nggak semua kreator harus ngomongin atau ngritik kebijakan. Apalagi kalau saya cek Maudy Ayunda itu kreator self-improvement ya wajar bahas cara ngatur diri, itu memang lahannya. Yang jadi masalah itu waktunya, dan saya cukup paham si perasaan netizen yang menyayangkan aja orang yang punya power/followers banyak tapi tidak bersuara terkait issue yang terjadi malah bahkan membahas untuk mindfulness. Jadi kalau videonya rilis pas orang lagi marah sama kebijakan, wajar kalau ada yang ngerasa nggak didengar.
Ketika kritik berubah jadi serangan
Salah satu tulisan paling viral soal kasus ini, dengan ratusan ribu likes di Threads, juga memuat kritik "bad policy" tadi. Tapi di dalamnya ada tiga jenis klaim yang dicampur jadi satu, dan menurut saya perlu dipisah.
- Klaim soal isi video, misalnya Maudy nyuruh orang "untuk tidak baca berita". Ini bisa dicek, dan seperti di atas, nggak ada di videonya.
- Klaim soal kewajiban, misalnya lulusan Philosophy, Politics and Economics (PPE) Oxford harus ngomongin kebijakan. Ini bukan fakta, tapi aturan yang dibikin penulisnya sendiri lalu dipakai buat menghakimi.
- Klaim soal niat, misalnya Maudy "naturally jahat" dan sengaja melemahkan gerakan sipil. Ini nggak bisa dibuktikan dan juga nggak bisa dibantah, jadi nggak ada gunanya diperdebatkan.
Tulisan itu juga ditutup dengan dua pilihan, Maudy itu bodoh atau jahat. Seolah nggak ada kemungkinan ketiga, yaitu konten rutin di niche-nya sendiri yang kebetulan meledak di waktu yang salah dan kurang mikirin siapa aja yang ikut dengar.
Pola serupa muncul di serangan lain. Ada yang mempersoalkan beasiswa LPDP yang pernah dia terima, ada yang ngebandingin dia dengan Sherina Munaf yang turun bantu korban bencana. Itu kritik ke orangnya, bukan ke isi videonya.
Sebenarnya kita lagi marah ke siapa?
Setelah nonton videonya sampai habis, menurut saya videonya salah momen dan salah sasaran, tapi bukan bukti bahwa orangnya nirempati. Kritik soal momen dan privilege itu sah-sah aja, dan Maudy sendiri udah ngakuin itu, dua kali malah. Tapi vonis soal karakter dari satu video, apalagi dari potongan klipnya, menurut saya kejauhan.
Kemarahan orang-orang itu nyata. Bencananya nyata, asapnya nyata, keracunannya nyata, kelangkaannya nyata. Sayangnya, energi sebesar itu banyak habis buat satu orang dan kalimat yang nggak pernah dia ucapkan, bukan buat nuntut pihak yang memang bertanggung jawab atas semua itu.
Jadi lain kali ada keributan kayak gini, mungkin pertanyaan pertamanya bukan "siapa yang benar?", tapi "sebenarnya kita lagi marah ke siapa dan apa?". Dan kalau sempat, tonton dulu videonya sampai habis.